Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu alat ukur untuk melihat kemampuan dasar siswa dalam bidang literasi, numerasi, dan penalaran. Hasil TKA sering dijadikan cerminan kualitas pembelajaran di sekolah. Sayangnya, ketika nilai TKA rendah, yang paling sering disorot adalah guru. Padahal, rendahnya hasil TKA bukanlah masalah tunggal yang bisa dibebankan hanya pada satu pihak.
Masalah ini jauh lebih kompleks. Orang tua, masyarakat, sistem pendidikan, bahkan karakter generasi itu sendiri turut berperan besar dalam membentuk hasil belajar siswa, termasuk dalam TKA.

TKA dan Realitas di Lapangan
Secara ideal, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir, bukan sekadar hafalan. Namun di lapangan, banyak siswa merasa TKA sulit, membingungkan, dan menekan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pendidikan dan kondisi nyata siswa.
Nilai TKA yang rendah sering kali mencerminkan masalah jangka panjang: kebiasaan belajar yang lemah, minimnya literasi, serta rendahnya daya juang siswa dalam menghadapi tantangan akademik.
Guru Bukan Satu-Satunya Faktor
Guru memang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Namun, guru bekerja dalam keterbatasan: jumlah siswa yang banyak, beban administrasi tinggi, serta tuntutan kurikulum yang terus berubah. Tidak adil jika kegagalan akademik siswa sepenuhnya disandarkan pada guru.
Menurut laporan UNESCO (2023), kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru, tetapi juga oleh lingkungan belajar, dukungan keluarga, dan kebijakan pendidikan yang konsisten. Guru tidak bisa bekerja sendiri tanpa ekosistem yang mendukung.
Peran Orang Tua yang Sering Terabaikan
Orang tua adalah sekolah pertama bagi anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah. Minimnya pendampingan belajar di rumah, kurangnya kebiasaan membaca, dan lemahnya kontrol penggunaan gawai sangat memengaruhi kemampuan akademik anak.
Beberapa orang tua lebih fokus pada nilai akhir tanpa memperhatikan proses belajar. Akibatnya, anak tumbuh tanpa disiplin belajar dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, termasuk saat menghadapi TKA.
Pengaruh Lingkungan dan Masyarakat
Lingkungan sosial juga berperan besar. Budaya instan, viral, dan serba cepat yang berkembang di masyarakat saat ini membuat belajar dianggap membosankan. Anak-anak dan remaja lebih banyak terpapar konten hiburan dibandingkan konten edukatif.
Masyarakat belum sepenuhnya membangun budaya literasi dan belajar. Minimnya ruang baca, diskusi, dan kegiatan edukatif di lingkungan sekitar turut memperlemah kemampuan akademik siswa.
Sistem Pendidikan yang Terus Berubah
Sistem pendidikan di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. Pergantian kurikulum, kebijakan yang belum stabil, serta fokus berlebihan pada administrasi membuat proses pembelajaran kurang optimal. Guru dan siswa sering berada dalam fase “adaptasi”, bukan penguatan konsep.
OECD dalam laporan PISA (2022) menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia berkaitan dengan kurangnya konsistensi kebijakan pendidikan dan pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya berpusat pada siswa.
Rendahnya Daya Juang Gen Z
Salah satu faktor penting yang jarang dibahas adalah rendahnya daya juang (grit) Gen Z. Banyak siswa mudah menyerah saat menghadapi soal sulit, tidak terbiasa berjuang dalam proses panjang, dan kurang tahan terhadap tekanan akademik.
Media sosial dan budaya serba instan membuat sebagian Gen Z ingin hasil cepat tanpa proses. Ketika TKA menuntut konsentrasi, ketekunan, dan daya pikir mendalam, mereka merasa kewalahan. Penelitian oleh Duckworth (2016) menegaskan bahwa daya juang dan ketekunan memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan akademik, bahkan lebih besar dari kecerdasan semata.
Perlu Tanggung Jawab Bersama
Rendahnya nilai TKA seharusnya menjadi alarm bersama, bukan ajang saling menyalahkan. Guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah perlu berjalan searah. Orang tua mendampingi, masyarakat menciptakan lingkungan belajar yang sehat, sistem pendidikan memberi ruang tumbuh, dan siswa dibimbing untuk membangun daya juang.
TKA bukan tujuan akhir, melainkan alat refleksi. Yang paling penting bukan hanya nilai, tetapi bagaimana proses belajar membentuk karakter tangguh, mandiri, dan tidak mudah menyerah.
Lalu Bagaimana?
Jika ingin nilai TKA meningkat, maka yang harus diperbaiki bukan hanya metode mengajar di kelas, tetapi juga budaya belajar di rumah, lingkungan sosial, sistem pendidikan, dan mentalitas generasi muda. Pendidikan adalah kerja bersama. Tanpa kolaborasi semua pihak, TKA hanya akan menjadi angka, bukan cerminan kemajuan pendidikan bangsa.
Referensi
- UNESCO. (2023). Global Education Monitoring Report.
- OECD. (2022). PISA 2022 Results.
- Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance.
- Kemendikbudristek. (2023). Asesmen Nasional dan Transformasi Pendidikan.
Penulis : Esti Widiawati
