Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi digital sejak dini. Perubahan ini berdampak signifikan pada pola belajar mereka, menciptakan peluang dan tantangan unik bagi para pendidik. Berikut ini adalah beberapa karakteristik utama perilaku belajar Gen Z, serta strategi yang bisa diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut.
Cara Belajar Gen Z
Gen Z cenderung belajar secara visual dan praktis. Mereka lebih memilih video, gambar, dan grafis daripada teks panjang. Menurut sebuah studi oleh Barnes & Noble College, 51% siswa Gen Z lebih suka belajar melalui video . Selain itu, mereka lebih menyukai pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung, yang memungkinkan mereka menerapkan teori ke dalam praktik nyata.
Teknologi adalah bagian integral dari kehidupan Gen Z. Mereka terbiasa menggunakan berbagai aplikasi dan platform online untuk mencari informasi dan menyelesaikan tugas. Pembelajaran daring dan hybrid menjadi metode yang sangat efektif bagi mereka, terutama jika disertai dengan interaktivitas dan gamifikasi.
Kurangnya Motivasi Belajar
Meskipun Gen Z memiliki akses yang luas terhadap informasi, banyak dari mereka mengalami kurangnya motivasi belajar. Sebagian besar disebabkan oleh kejenuhan digital dan distraksi dari media sosial. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menurunkan motivasi intrinsik dan meningkatkan kecemasan . Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang menarik dan relevan, serta membatasi distraksi digital selama proses belajar.
Merasa Insecure dan Tergantung pada HP
Gen Z sering merasa tidak aman atau insecure, terutama karena eksposur berlebih terhadap standar sosial yang tidak realistis di media sosial. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan motivasi belajar mereka. Untuk mengatasi ini, pendidik perlu mengedepankan pendekatan yang mendukung dan inklusif, mendorong siswa untuk fokus pada pertumbuhan pribadi dan akademis daripada membandingkan diri dengan orang lain.
Ketergantungan pada HP juga menjadi masalah. Rata-rata, Gen Z menghabiskan sekitar 4 jam sehari di ponsel mereka . Untuk mengurangi ketergantungan ini, pendidik bisa memperkenalkan kebijakan “tidak ada ponsel” selama jam belajar, serta mendorong penggunaan teknologi secara bijak dan produktif.
Anti Sosial dan Kebutuhan Eksistensi Diri
Meski Gen Z sering dikaitkan dengan perilaku anti sosial karena banyak menghabiskan waktu di dunia maya, mereka sebenarnya memiliki kebutuhan eksistensi diri yang kuat. Mereka mencari pengakuan dan validasi dari lingkungan sekitarnya, baik secara daring maupun luring. Menurut penelitian, pengakuan dari teman sebaya dan guru sangat mempengaruhi motivasi belajar mereka .
Untuk mengatasi masalah ini, pendidik harus mendorong interaksi sosial yang sehat melalui kerja kelompok dan diskusi kelas. Membangun komunitas belajar yang suportif dapat membantu siswa merasa lebih terhubung dan termotivasi.
Apa yang dapat dilakukan?
Menghadapi pola belajar Gen Z memerlukan pemahaman mendalam mengenai karakteristik mereka dan adaptasi strategi pengajaran yang sesuai. Penggunaan teknologi yang tepat, pendekatan pembelajaran interaktif, serta lingkungan belajar yang mendukung dan inklusif adalah kunci untuk meningkatkan motivasi dan keberhasilan akademis Gen Z. Pendidik perlu terus berinovasi dan berempati untuk membantu Gen Z mencapai potensi maksimal mereka.
Referensi
- Barnes & Noble College. (2018). Study: Gen Z Learners.
- Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy – and Completely Unprepared for Adulthood.
- Anderson, M., & Jiang, J. (2018). Teens, Social Media & Technology 2018. Pew Research Center.
- Schunk, D. H., & Zimmerman, B. J. (2012). Motivation and Self-Regulated Learning: Theory, Research, and Applications.

